IndeksPortalAnggotaPendaftaranLogin
Sponsor
souvenir-pernikahan
MENU
 HOME
 FORUM
 ANGGOTA
 PROFILE
 HELP
 PENCARIAN
 
Links
-Ispiring story
-Resep masakan
-Download lagu
-Coret-coret
-Computer and stuff
-Kuliner
-freeware2dl
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Latest topics
» PERKENALAN
Tue Apr 17, 2012 11:33 am by 4d3 city

» old navy store coupon
Wed Aug 03, 2011 7:57 pm by Tamu

» mau di isi apa ya
Tue Dec 02, 2008 3:09 am by Admin

» Greeting_to U
Mon Dec 01, 2008 10:48 pm by Admin

» driver acer 3680 (notebook)
Thu Nov 20, 2008 7:48 pm by Admin

» 3 fakta aneh tentang Microsoft windows
Sun Nov 09, 2008 2:06 am by Admin

» Windows XP SP2 Tips sebelum instalasi dan masalahnya
Wed Nov 05, 2008 2:09 am by Admin

» Ini Fotonya siapa ya :-"
Sat Oct 04, 2008 4:02 pm by Tamu

» driver Grabber
Sat Sep 27, 2008 4:35 am by Admin

» CARA DOWNLOAD DARI IMEEM.COM
Thu Sep 25, 2008 5:28 am by Admin

» Pepatah Bijak dan Bijaksana
Wed Sep 17, 2008 12:14 am by deion_marine

» ACCOUNT RAPIDSHARE GRATIS..
Tue Sep 16, 2008 11:25 pm by deion_marine

» Bikin tulisan Terbalik
Thu Aug 28, 2008 11:02 pm by arie

» Kata-kata Mutiaraku
Mon Aug 25, 2008 2:47 am by Admin

» Promosi nih :D
Fri Aug 22, 2008 12:47 am by mey za

Kesan dan Pesan




IP

Share | 
 

 sepenggal kisah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 36
Join date : 04.08.08

PostSubyek: sepenggal kisah   Tue Aug 05, 2008 5:50 am

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak
kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata
pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf
anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon
apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

NOTE :
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.
Kembali Ke Atas Go down
http://yujinha.dbzworld.org
 
sepenggal kisah
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» kisah kapal MARY CALESTE..
» Kisah nyata...=)
» BIODATA MARLON BRANDO
» Wortel, Telur, Biji Kopi

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
 ::  PENYEJUK QALBU :: Sentuhan Qolbu-
Navigasi: